Transportasi | Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) masih meresahkan keberadaan aplikasi da"> Transportasi | Perhimpunan Hotel"> Transportasi | Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) masih meresahkan keberadaan aplikasi da" />

PHRI Masih Kritisi OTA Asing

PHRI Masih Kritisi OTA Asing
Transportasi | Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) masih meresahkan keberadaan aplikasi dan platform digital untuk pemesanan kamar hotel, atau Online Travel Agencies (OTA) dengan berbagai alasan.

Wakil Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran mengatakan aplikasi atau platform digital tersebut harus memiliki badan usaha tetap.

"Meskipun mereka berkontribusi terhadap peningkatan jumlah permintaan kamar hotel, namun banyak aplikasi dan platform OTA asing yang tidak berbadan hukum. Lebih lagi, mereka  mempunyai basis pengguna di Indonesia yang berakibat menyebabkan hilangnya potensi penambahan pendapatan asli daerah (PAD) untuk kawasan pariwisata." katanya

Maulana menambahkan, banyak peraturan dan kebijakan yang berbenturan ketika dikaitkan ke pengaturan dan pengawasan aplikasi dan platform digital.

"Permasalahan ini menciptakan persaingan tidak sehat. Misalnya pengusaha akomodasi dibawah 10 kamar pada umumnya tidak mempekerjakan karyawan sesuai perundang-undangan," ujar pria yang akrab disapa Alan ini ketika berbicara di hadapan peserta diskusi acara The Hotel Week, Sabtu (10/11).

Selain itu, menurutnya ada beberapa resiko lainnya. "Karena mudah memesan kamar melalui online, aspek safety bisa jafi dipertaruhkan, dan menyebabkan kamar hotel rentan menjadi fasilitas kegiatan terlarang, seperti teroris atau bahkan prostitusi," tambahnya.

Sepetti diketahui, pelaku industri perhotelan sudah beberapa tahun terakhir gencar mengkritisi OTA asing lantaran banyak yang melalaikan kewajiban membayar pajak luar negeri atau PPh Pasal 26. (MAH)



0 Komentar

Berikan komentar anda

menu
menu